Ilustrasi : Rumah Hantu Anda kenal dengan istilah hantu? Atau paling tidak pernah dengar tentang hantu? Bahkan pernah melihat hantu? ...
![]() |
| Ilustrasi : Rumah Hantu |
Bagi anda yang phobia dengan hantu, disarankan jangan sekali-kali tidak membaca ini...hehehe.
Konon menurut cerita yang saya dengar dari anak-anak (baca: mulut ke mulut) hantu merupakan gambaran sosok yang menakutkan. Karena tak ada yang ganteng atau cantik dalam tampilan. Kalau pun ada yang menampakkan kecantikan dan keseksiannya, itu pun hanya semu, yang ujung-ujungnya keluar taringnya. Siap menghisap darah.
Masih teringat sinetron yang pernah populer di zamannya, Si Manis Jembatan Ancol. Entah, dari mana deskripsi hantu ini mereka dapatkan. Bahkan, mereka dapat menyebutkan satu persatu spesifikasi masing-masing hantu. Mulai dari tuyul yang mungil dan gundul, akrab dengan Mbak Yul, pocong yang berbusana serba putih pakai ikat di ujung kepalanya dan suka berolah raga loncat-loncat, sering kita jumpai dalam event karnaval atau gerak jalan. Si gondoruwo yang berbadan serba hitam besar karena kebanyakan berjemur di Pantai Kuta. Banaspati, endas glundung, jailangkung, wewe gombel yang gembel, lagi suka nge-gombal, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, karena memang saya tidak sedang mengabsen mereka.
Dengan tulisan saya ini, saya tidak bermaksud kontradiktif dengan mereka yang mempercayai dan pernah melihat hantu. Karena selama ini saya juga tidak pernah bertemu dengan sekelompok masyarakat makhluk astral yang jelek-jelek itu. (Batin mending ketemu shahrukh khan, atau tom cruse, atau sule si sunda bule)
Saya hanya berpikir, kata "han-tu", jika suku katanya dibalik akan menjadi "Tu-han".
Jadi, menurut saya, adanya hantu karena seseorang meniadakan Tuhan dalam hatinya. Atau saat itu tidak ingat dengan Tuhan.
Pernah kejadian, suatu malam, saat saya perjalan pulang dari rumah orangtua yang berjarak 12 kilometer dari rumahku. Tiba-tiba turun hujan deras mengguyur. Sementara saya tidak membawa jas hujan. Saya pun mencoba untuk berteduh. "Kalau di bawah pohon, tidak mungkin". Karena hujannya cukup deras.
Tiba di depan rumah hijau yang halamannya luas, saya pun berhenti. Rumah itu tertutup rapat. Jalanan tampak sepi. Malam semakin larut. Hujan belum juga reda. Tak terasa, bulu kuduk pun semakin berdiri bergantian.
"Aku sendirian.." gumamku dalam rancak suara hujan yang semakin deras dan mencekam. "Uhk..uhk.." sesekali kudengar suara batuk-batuk kakek yang sudah lanjut usia. Sementara di samping rumah yang kutempati itu tampak bangunan rumah besar dan mewah. Pagar besi yang sedikit menjorok melebihi rumah di mana aku berada, menunjukkan pemiliknya kaya-raya, juga tampak sepi.
Sesekali bunyi HPku berdering. Suara istriku yang menanyakan keberadaanku. Ia mengabari kalau di rumahnya saat itu juga sedang hujan. "hujan deras yang merata." kusimpulkan saat itu.
Sementara, hujan di sini pun tak reda-reda. Bahkan semakin meningkat intensitas airnya. Suara batuk pak tua sudah tidak kudengar lagi. Atau mungkin karena suara derasnya air hujan yang menutupinya.
Tiba-tiba... "krieeeetttt...." mataku tertuju pada pintu gerbang rumah besar itu. Aku pandangi dengan seksama. Pintu itu terbuka pelan-pelan. Tapi tak ada seorang pun di sana. Dalam penasaranku, kuambil HP di tas kecil, sambil pandanganku tak ingin melepas objek yang mencurigakan. Dan "kriiiing.." bunyi HPku berdering lagi sebelum aku memoto rumah besar itu. Dari istriku kembali. Kuangkat dan kusampaikan hujan belum reda, ada rumah besar pintu gerbangnya terbuka sendiri.
Setelah beberapa saat menyampaikan keanehan-keanehan itu, mendadak pintu gerbang itu bergerak menutup kembali. Hiiii....ngeri banget ....
Bagi anda yang sudah semakin takut, lebih baik anda lanjutkan membaca!!!
Pintu gerbang itu pelan-pelan menutup kembali, dan kini kulihat ujung jari-jari manusia walau tak begitu jelas, setelah sebuah mobil putih keluar dari rumah itu. Ya....Sang pemilik rumah besar yang sedang keluar dari rumahnya. Jari-jari itu ternyata jari istrinya yang sedang membukakan pintu gerbang untuk suaminya yang hendak bekerja.
Ada pun suara batuk-batuk yang berasal dari dalam rumah tempatku berteduh, adalah Pak tua pemilik rumah yang mungkin kesedak habis makan singkong goreng yang cocok dinikmati saat hujan.
Aku pun sadar, hantu itu telah menghantui pikiranku. Dan pikiranku terlalu dihantui dengan ketakutan. Jadi, bagi anda yang dalam ketakutan hadirkan Tuhan dalam hati. Dijamin deh, hantunya lari terbirit-birit. Masih percaya hantu? Percayalah Tuhan (*)
*ditulis : Janan
